Archive for the ‘syubhat takfir’ Category

ayat ini khusus untuk yahudi

Apakah ayat ini (al-maidah 44) bersifat khusus untuk ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) atau bersifat umum yang juga mencakup kaum muslimin?

Abdul qadir bin abdul aziz

Perkataan para sahabat dan tabi’in berbeda-beda dalam masalah ini dan terbagi menjadi dua pendapat. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ahlul kitab dan orang-orang kafir, (seperti perkataan Al Barroo’ bin ‘Aazib, Hudzaifah ibnul Yaman, Ibnu ‘Abbaas, Abu Mijlaz, Abu Rojaa’ Al ‘Athooridiy, ‘Ikrimah, Qotaadah, Adl Dlohaak, ‘Ubaidulloh bin ‘Abdulloh, Al Hasan Al Bashriy dan yang lainnya). Dan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ayat tersebut wajib bagi kaum muslimin (seperti yang dikatakan oleh Hudzaifah ibnul Yaman, Al Hasan Al Bashriy, Ibrohim An Nakh’iy, dan ‘Aamir Asy Sya’biy). Dan tidak ada yang mengatakan bahwa ayat ini bukan untuk kaum muslimin kecuali Abu Shoolih. Lihatlah perkataan Ibnu Katsiir yang telah kami sampaikan di depan dan perkataan Ath Thobariy dalam tafsirnya VI/252-255.

Dan telah saya jelaskan dalam kata pengantar ketiga bahwa perkataan para sahabat itu jika berbeda-beda tidak dapat dijadikan hujjah. Namun demikian kebenaran pasti berada pada salah satu perkataan mereka yang berbeda-beda tersebut dan kebenaran itu tidak akan keluar dari seluruh perkataan mereka sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam kata pengantar keempat. Dan untuk mengetahui mana yang benar di antara perkataan mereka maka harus dilakukan tarjiih (memilih mana yang lebih kuat) di antara perkataan yang bermacam-macam tersebut dengan berbagai faktor penguat yang bermacam-macam. Sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam kata pengantar kelima. Dan pada kata pengantar ketiga dan kelima telah saya nukil perkataan Imam Maalik rh — tentang perselisihan sahabat — yang berbunyi: “… ada yang salah dan ada yang benar maka hendaknya kamu berijtihad.”

Baca lebih lanjut

Iklan

tafsir ayat hukum

Kajian firman Allah

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

I. sababun nuzuul[1]

Sebab turunnya ayat ini ada dua pendapat dari para ulama :

1. “Seorang yahudi yang telah dihitamkan dan dicambuk dilewatkan dihadapan Rosululloh SAW. Maka Rosululloh SAW memanggil mereka dan bertanya:

“Apakah seperti ini hukuman bagi orang yang berzina yang kalian dapatkan dalam taurat?”.

Mereka menjawab: “Ya”. Maka beliau memanggil salah seorang ulama mereka, lalu mengatakan kepadanya: “Aku menyumpahmu atas nama Dzat yang menurunkan taurot kepada Musa, apakah begini hukuman bagi orang yang berzina yang kalian dapatkan dalam kitab kalian?”.

Maka dia menjawab: “Demi Alloh tidak, dan kalau bukan karena engkau menyumpahku tentu aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Kami mendapatkan hukuman bagi orang yang berzina adalah rajam. Akan tetapi karena hal ini sering terjadi pada pemuka-pemuka kami. Padahal kami apabila yang melakukan pelanggaran seorang pemuka maka kami biarkan dan apabila yang melakukan pelanggaran itu seorang yang lemah, maka kami laksanakan hukuman. Maka kamipun mengatakan:”Mari kita membuat hukuman yang kita berlakukan untuk orang yang mulia maupun orang yang rendah.” Maka kami bersepakat untuk menghitamkan dan mencambuk. Maka Rosululloh SAW bersabda:

“Ya Alloh, sesungguhnya aku adalah orang yang pertama kali menghidupkan perintahMu ketika mereka mematikannya.”

Maka beliau memerintahkan untuk merajamnya. Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat:

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ لاَيَحْزُنكَ الَّذِينَ يسارعون في الكفر — إلى قوله

“Wahai Rosul, janganlah menjadikan kamu sedih orang-orang yang bergegas-gegas melakukan kekafiran — sampai —

firman Alloh yang berbunyi:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir.”

Baca lebih lanjut