Archive for the ‘demokrasi’ Category

Kerusakan Demokrasi

50 Indikasi Destruktif Demokrasi…

Oleh Syaikh Abdul Majid Bin Mahmud Ar Reimy

Dengan memohon taufiq kepada Allah, kami berusaha memaparkan beberapa indikasi destruktif (kerusakan) demokrasi, pemilihan umum dan berpartai:

1. Demokrasi dan hal-hal yang berkaitan dengannya berupa partai-partai dan pemilihan umum merupakan manhaj jahiliyah yang bertentangan dengan Islam, maka tidak mungkin sistem ini dipadukan dengan Islam karena Islam adalah cahaya sedangkan demokrasi adalah kegelapan.

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat dan tidak (pula) kegelapan dengan cahaya.” ( Faathir:19-20)

Islam adalah hidayah dan petunjuk sedangkan demokrasi adalah penyimpangan dan kesesatan.

Sungguh telas jelas petunjuk daripada kesesatan.” ( Al-Baqarah: 256)

Islam adalah manhaj rabbani yang bersumber dari langit sedangkan demokrasi adalah produk buatan manusia dari bumi. Sangat jauh perbedaan antara keduanya.

Baca lebih lanjut

Demokrasi adalah murtad

DEMOKRASI ADALAH MURTAD !

Sesungguhnya, Syariat bagi makhluk adalah hak mutlak ciptaan Allah semata yang tidak sah Tauhid seseorang kecuali dengan menTauhidkan-Nya dalam ciptaan-Nya, maka barangsiapa yang membuat syariat bagi manusia selain dari syariat Allah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan dirinya sebagai tandingan [sekutu] bagi Allah di dalam ketuhanan-Nya dan peribadahan-Nya, dan juga berarti telah menjadikan dan mengangkat dirinya sebagia Tuhan bagi menusia selain Allah, maka dia telah kafir dengan perbuatannya itu. Sifat-sifat yang demikian Allah tegaskan sebagaimana ditunjukan dalam ayat-ayat-Nya, antara lain sebagai berikut :
Berfirman Allah SWT. :
“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” ? [QS. Asy-Syura’: 21].
Ayat ini menegaskan dan menetapkan bahwa barangsiapa membuat syariat bagi manusia selain dari syariat Allah [tidak diizinkan Allah], maka sungguh dia telah menjadikan dirinya sebagai tandingan bagi Allah dalam kerubbubiyahan-Nya [keTuhanan-Nya] dan barangsiapa yang mentaati orang dengan syariat yang dibuatnya dan mengikuti syariat yang bertentangan dengan syariat Allah, maka dia telah musyrik dan kafir kepada Allah. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di dalam kitabnya Iqtidlaish-Shiratil Mustaqiem Baca lebih lanjut

kekafiran demokrasi

sisi-sisi kekafiran demokrasi

Demokrasi diambil dari bahasa Latin, demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti hukum dan kekuasaan. Jadi demokrasi adalah hukum dan kekuasaan rakyat, dan dibahasakan dalam Undang Undang Dasar RI dengan “Kedaulatan berada di tangan rakyat“.

Demokrasi memiliki beberapa ajaran, diantaranya :

  • Sumber hukum bukan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, akan tetapi rakyat
  • Hukum yang dipakai bukanlah hukum Allah, akan tetapi hukum buatan
  • Memberikan kebebasan berkeyakinan dan mengeluarkan fikiran dan pendapat
  • Kebenaran adalah suara terbanyak
  • Tuhannya banyak dan beraneka ragam
  • Persamaan hak

Ajaran-ajaran demokrasi atau dien (agama) demokrasi ini semuanya kontradiksi dengan dien kaum muslimin, Al Islam. Sebagian manusia merasa aneh saat kami menyebut demokrasi sebagai dien (agama) padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan :

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja (dien al malik)…” (QS. Yusuf [12] : 76)

Undang-undang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala namakan sebagai dien (agama/jalan hidup yang ditempuh), sedangkan demokrasi itu memilliki undang-undang selain Islam. Jadi yang namanya dien (agama) kafir itu bukan hanya Nashrani, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Shinto, dan Majusi saja…, akan tetapi Demokrasi adalah dien, Nasionalisme adalah dien, Kapitalisme adalah dien, Sekulerisme adalah dien. Baca lebih lanjut

hukum parlemen

HUKUM-HUKUM DEMOKRASI, WAKIL RAKYAT DI PARLEMEN DAN ORANG-ORANG YANG MEMILIH MEREKA

Abdul qadir bin abdul aziz

HUKUM DEMOKRASI

Yang menjadi patokan hukum demokrasi adalah adanya kedaulatan di tangan rakyat. Sedangkan yang dimaksud dengan kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang tidak mengenal kekuasaan yang lebih tinggi dari padanya sehingga kekuasaannya itu berasal dari rakyat tanpa ada batasan apapun. Maka rakyat berhak berbuat apa saja dan membuat undang-undang semaunya tanpa ada seorangpun yang berhak untuk mengkritisinya. Dan inilah sesungguhnya sifat Alloh, sebagaimana firman Alloh:

وَاللهُ يَحْكُمُ لاَمُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ

Sesungguhnya Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang tidak dapat menolak ketetapan-Nya” (QS. Ar-Ra’ad:41),

dan firman Alloh:

إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ مَايُرِيدُ

“Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya” (QS.Al-Ma’idah:1),

dan Alloh berfirman:

إِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَايُرِيدُ

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Hajj:14).

Kami ringkaskan dari penjelasan di atas bahwa demokrasi itu melepaskan peribadahan (ketundukan) dari manusia, lalu memberikan hak mutlak kepadanya untuk membuat undang-undang. Dengan demikian maka demokrasi menjadikan manusia sebagai tuhan selain Alloh dan menjadikannya sekutu bagi Alloh dalam membuat undang-undang. Dan ini adalah kufur akbar yang tidak ada keragu-raguan lagi padanya. Dengan ungkapan yang lebih detil lagi adalah bahwa tuhan baru dalam demokrasi adalah kemauan manusia. Ia membuat undang-undang sesuai dengan pemikiran dan kemauannya tanpa ada pembatas apapun. Alloh berfirman:

Baca lebih lanjut

Hakekat Demokrasi

KEMAKSIATAN TIDAK BERUBAH MENJADI MUBAH HANYA BERDASARKAN NIAT, AKAN TETAPI HARUS BERDASARKAN DALIL SYAR’I

Abdul qadir bin abdul aziz

Ketahuilah bahwa kemaksiatan itu tidak bisa menjadi mubah atau menjadi ibadah hanya berdasarkan niat, sebagaimana perkataan Abu Hamid Al-Ghozali yang telah lalu[1] Dan ketahuilah bahwasanya meskipun sebagian maksiat itu berubah menjadi mubah pada keadaan-keadaan tertentu namun hal itu harus berdasarkan dalil khusus yang memperbolehkannya dan bukan hanya sekedar dengan niat (untuk beribadah). Contohnya adalah:

A.    Dusta adalah haram dan termasuk dosa besar, akan tetapi bohong diperbolehkan pada tiga keadaan berdasarkan nash hadits Rosulullah SAW, dan bukan hanya sekedar berdasarkan niat. Keadaan-keadaan tersebut adalah keadaan perang, mendamaikan antara manusia dan antara suami istri, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim dari Ummu Kultsum binti Uqbah ra.

B.     Makan bangkai adalah haram dan termasuk dosa besar, akan tetapi boleh dilakukan ketika dalam keadaan terpaksa karena kelaparan berdasarkan nash dalam Al-Qur’an, dan bukan berlandaskan niat. Alloh berfirman:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah:173).

Dan dalil yang memperbolehkan makan bangkai ini membatasi rukhshoh (keringanan) pada keadaan tertentu saja sehingga tidak boleh dikiaskan pada yang lainnya.

Baca lebih lanjut

Bantahan fatwa sesat ibnu baz

BantahanTerhadapFatwa Ibnu Baz

Yang Sesat Lagi MenyesatkanKarena Dibangun Diatas KejahilanTerhadapRealita Demokrasi

&

KekafiranOrang Yang MasukMajelis Syirik DemokrasiDemi Mashlahat Dakwah

FAIDAH    :

Maksiat itu tidak menjadi boleh dengan niat, akan tetapi dengan dalil syar’iy yang khusus

Ketahuilah, bahwa maksiat tidak dibolehkan dan tidak berubah menjadi ketaatan dengan sebab niat sebagaimana yang telah lalu dalam ucapan Abu Hamid Al Ghazali[1] rahimahullah. Dan ketahuilah bahwa bila boleh melakukan maksiat dalam kondisi-kondisi khusus, maka sesungguhnya ini tidak (menjadi) boleh kecuali dengan dalil khusus yang membolehkan untuk melakukan maksiat itu bukan dengan sekedar niat, dan contoh hal ini:

A.     Dusta adalah haram dan tergolong dosa besar, akan tetapi ia dibolehkan dalam tiga tempat dengan penegasan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dengan sekedar niat. Dan tempat-tempat ini adalah: Dalam peperangan, dalam mendamaikan diantara manusia, serta antara laki-laki dengan isterinya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ummu Kultsum binti Uqbah radliallaahuanhu.

B.     Makan bangkai adalah haram dan tergolong dosa yang besar, akan tetapi ia (menjadi) boleh bagi orang yang dalam kondisi darurat dalam kelaparan dengan penegasan Kitabullah ta’ala, bukan dengan niat. Allah ta’ala berfirman:

Baca lebih lanjut