PRINSIP-PRINSIP PEMIKIRAN KELOMPOK SALAFI GAYA BARU

PRINSIP PERTAMA : Mensikapi para da’I sebagaimana sikap khowarij, mensikapi para penguasa sebagaimana sikap murjiah, mensikapi jama’ah-jama’ah sebagaimana sikap rofidhoh dan mensikapi orang-orang yahudi, nasrani dan kafir sebagaimana sikap Qodariyyah.

 

Perkumpulan ini telah menjadikan tajrih (mencela) sebagai dien, dan menggunjing orang-orang sholih sebagai manhaj …. Dan telah terkumpul padanya kejelekan yang ada pada firqoh-forqoh (yang sesat).

(Maksud) penyikapan mereka kepada para da’I sebagaimana sikap khowarij adalah, mereka mengkafirkan orang yang melakukan kesalahan, dan mereka menganggap orang yang berbuat ma’siyat itu keluar dari Islam dan mereka menghalalkan darah mereka dan mewajibkan membunuh dan memeranginya.

Adapun pensikapan mereka kepada para penguasa sebagaimana sikap Murjiah adalah, (menurut mereka) Islam itu cukup hanya dengan lisan saja tanpa diaplikasikan dengan amal, adapun amal menurut mereka, jika dinisbahkan  pada penguasa (maka penguasa) itu telah  keluar dari penyebutan iman.

Adapun pensikapan mereka kepada jama’ah-jama’ah, mereka menggunakan manhajnya rofidhoh dalam mensikapi para shahabat dan ahlus sunnah, maka sesungguhnya rofidhoh telah bersepakat dalam sangkaannya yang salah dalam mensikapi shahabat yang mulia, dan mereka mencampakkan para shahabat semua, dan mereka bersepakat (menolak) atas ketergelinciran (yang dilakukan oleh) ulama ahlus sunnah.

Adapun pensikapan mereka kepada orang-orang yahudi, nasrani dan kafir sebagaimana sikap Qodariyah Jabariyyah. Mereka  berpendapat bahwa tidak ada jalan keluar dari kekuasaan orang-orang kafir, sementara kaum muslimin tidak mampu menolaknya, dan semua harokah dan jihad yang berusaha menolak orang-orang kafir dari hadapan ummat Islam kesudahannya hanyalah kegagalan, oleh karena itu jangan berjihad sampai datangnya imam !!!.

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin bisa terkumpul pada mereka kebid’ahan firqoh-forqoh (yang sesat) ini ?!! Bagaimana mereka bisa mengukur dalam setiap permasalahan dengan dua ukuran, maka ukuran yang mereka gunakan mengukur para penguasa  tidak menggunakan ukuran yang mereka gunakan untuk mengukur para ulama Islam !! Fala haula wala quwwata illa billah !!!

Prinsip Kedua : Prinsip mereka dalam mengkafirkan dan membid’ahkan

 

PRINSIP KEDUA : Setiap orang yang terjerumus dalam kekafiran maka ia talah kafir, dan setiap orang yang terjerumus dalam kebid’ahan maka ia telah menjadi mubtadi’ (pelaku bid’ah).

 

Inilah prinsip mereka yang kedua, yaitu mengkafirkan seorang muslim yang terjerumus dalam perkataan kekafiran atau yang mereka sangka kafir, tanpa mendeteksi (apakah orang itu) mengatakan kekafiran (dengan nyata-nyata) atau karena salah atau karena ta’wil (yang salah) atau karena bodoh atau karena terpaksa.

(Mereka beranggapan) bahwa setiap muslim yang terjerumus dalam kebid’ahan atau ragu dengan kebid’ahan maka ia telah menjadi mubtadi’, tanpa mengoreksi terlebih dahulu (apakah) orang yang mengatakan kebid’ahan atau pelaku bid’ah itu (melakukannya) karena salah ta’wil ataukah ia seorang mujtahid atau seorang yang bodoh.

(Sebenarnya) merekalah yang paling layak dijuluki mubtadi’, karena mereka telah mengambil prinsip ini dari prinsipnya ahlul bid’ah dan dicampur dengan prinsip ahlus sunnah wal jama’ah.

PRINSIP KETIGA : Yang tidak membid’ahkan mubtadi’ (pelaku bid’ah) maka menjadi mubtadi’

 

Prinsip yang ketiga ini merupakan prinsip yang rusak, maka ketika mereka telah menghukumi seseorang dengan mubtadi’ atau menghukumi sebuah jama’ah da’wah itu termasuk dari jama’ah bid’ah, dan kita tidak mengambil pendapat serta hukum mereka yang rusak itu, maka anda adalah mubtadi’, karena anda tidak membid’ahkan mubtadi’.

Fala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim. Itu merupakan prinsip dasar (mereka), maka itu bisa jadi menimpa kita atau menimpa mereka sendiri.

Mereka mengikuti jalan orang sebelum mereka dalam  cara menghukumi, yaitu orang-orang yang berkata “Siapa yang tidak mengkafirkan orang yang kafir – menurut mereka – maka ia telah kafir”.

Maka apabila mereka telah menghukumi seorang muslim dengan kekafiran, kemudian anda tidak sepakat dengan keputusan mereka, maka anda telah kafir juga, karena anda tidak sepakat dengan ijtihad mereka. Perkataan seperti ini sama dengan perkataan orang khowarij.

 

PRINSIP KE EMPAT : Methodhe pengambian dalil dengan manhaj yang rusak di dalam membid’ahkan, memfasikkan, menghajer (mengisolasi), dan mentahdzir dari kebid’ahan, dengan beralasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan kesalahan para nabi.

 

Ini merupakan musibah besar yang menimpa mereka, yaitu mereka menyangka bahwa ketika Allah menunjukkan kesalahan yang pernah diperbuat nabi kita  , sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada nabi Nuh ‘alaihis salam :

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ

     “Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu.” QS. Hud : 46.

      Dan firman Allah Ta’ala kepada nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam   :

عَفَا اللهُ عَنْكَ لِمَا أَذِنْتَ لَهُمْ

      “Allah memberi maaf kepadamu, mengapa engkau idzinkan mereka.” QS. At Taubah : 43.

     Dan firman Allah Ta’ala lagi :

وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيْلاً

     “Dan jika tidak Kami tetapkanmu, niscaya hampirlah kamu cenderung sedikit kepada mereka.” QS. Al isro’ : 74. dan masih banyak lagi ayat yang senada dengan ini di dalam Al Qur’an.

Orang-orang bodoh itu menyangka, bahwa ini menyimpang prinsip rusak mereka yang telah dibuat dan ada-adakan, yaitu menyebut  dan menggunjing kekeliruan para da’I ilallah dengan bertujuan menjauhkan dan mentahdzir manusia dari mereka.

Bagaimana anda mengkiyaskan ayat ini wahai ahli akal ?!! Apakah para nabi itu telah menjadi mubtadi’ yang wajib ditahdzir ?!!!. Sesuai dengan ilmu, maka prinsip ini tidak boleh disandangkan pada mereka (para da’I) dari celah kesalahan yang pernah mereka lakukan, karena mereka (para da’i/syaikh)  boleh melakukan sesuatu yang orang lain tidak boleh melakukannya, dan barangsiapa yang mengikuti mereka (para da’I) maka telah mengikuti salaf dengan sempurna.

Maka apakah mereka (para pengaku salafiyyin) telah menempatkan diri pada kedudukan Rob yang memberi petunjuk para nabi ?!!! Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak dengan memberikan petunjuk kepada para nabi – Karena melakukan kesalahan –  itu agar manusia mentahdzir mereka sebagaimana yang mereka lakukan kepada para da’I yang mendapat petunjuk ?!!!. Apakah Allah dengan menyebutkan kesalahan-kesalahan para nabi itu berkehendak mencela dan menghina mereka sebagaimana yang mereka lakukan kepada para da’I ilallah ?!!! Maha tinggi Allah, apa yang mereka ucapkan merupakan kesombongan yang besar … Walaa Haula walaa Quwwata Illaa Billahil ‘adziim.

Sesungguhnya hikmah Allah amat besar. Segala yang IA sebutkan untuk menunjukkan para nabi tiada lain kecuali untuk menerangkan kedudukan mereka (para nabi) yang tinggi, dan (menerangkan) bahwa mereka itu manusia biasa, yang terkadang ijtihad (mereka salah) kemudian Allah luruskan dan Allah berbicara kepada mereka. Allah itu Rob yang Maha Agung, dengan kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, kasih sayang-Nya, hikmah-Nya dan ilmu-Nya.

Lihatlah firman Allah Ta’ala yang ditujukan kepada Nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam :

عَفَا اللهُ عَنْكَ لِمَا أَذِنْتَ لَهُمْ

“Allah memberi maaf kepadamu, mengapa engkau idzinkan mereka.” QS. At Taubah : 43. Maka sebelum Allah menimpakan sanksi, Allah memberikan maaf terlebih dahulu … dan seluruh teguran yang ditujukan kepada para rosul, di dalamnya mengandung balighul Kalam (kalimah yang penuh makna), dan mengandung kebaikan yang bisa meninggikan sifat mereka…..

Andaikan kalian mempelajari ilmu tentang khitob Ilahi kepada para rosul-Nya …. Kalian pasti mengerti bagaimana beretika kepada para ulama Islam, kepada ahlul ijtihad yang mereka (bersungguh-sungguh) dalam berijtihad. Memang terkadang mereka salah dan juga terkadang benar (dalam berijtihad). Jika kalian mempunyai ilmu atau adab, kewajiban kalian adalah menasehati dan memaklumi kesalahan mereka, dan kalian maafkan kelalaiannya, kalian luruskan perjalanan nya. Akan tetapi kalian telah membuat prinsip yang dapat merobohkan (bangunan) dien, mengobrak-abrik para da’I ilallah Robbul ‘Alamin, sehingga nyaris kesalahan yang mereka lakukan kalian jadikan jalan untuk merobohkannya, membuangnya, menghinanya dan mencelanya !!! Hanya kepada Allahlah tampat untuk mengadukan (perbuatan) orang yang meninggalkan untuk menolong dien ini, dan pekerjaannya hanya untuk merobohkan Islam dan kaum muslimin.

Iklan

One response to this post.

  1. Posted by selfdeterministic on 23/01/2017 at 06:30

    saya ijin copas ya ustad, nanti sumber saya tampilkan. Jazakallahu khairan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: