PRINSIP-PRINSIP PEMIKIRAN KELOMPOK SALAFI GAYA BARU

PRINSIP PERTAMA : Mensikapi para da’I sebagaimana sikap khowarij, mensikapi para penguasa sebagaimana sikap murjiah, mensikapi jama’ah-jama’ah sebagaimana sikap rofidhoh dan mensikapi orang-orang yahudi, nasrani dan kafir sebagaimana sikap Qodariyyah.

 

Perkumpulan ini telah menjadikan tajrih (mencela) sebagai dien, dan menggunjing orang-orang sholih sebagai manhaj …. Dan telah terkumpul padanya kejelekan yang ada pada firqoh-forqoh (yang sesat).

(Maksud) penyikapan mereka kepada para da’I sebagaimana sikap khowarij adalah, mereka mengkafirkan orang yang melakukan kesalahan, dan mereka menganggap orang yang berbuat ma’siyat itu keluar dari Islam dan mereka menghalalkan darah mereka dan mewajibkan membunuh dan memeranginya.

Adapun pensikapan mereka kepada para penguasa sebagaimana sikap Murjiah adalah, (menurut mereka) Islam itu cukup hanya dengan lisan saja tanpa diaplikasikan dengan amal, adapun amal menurut mereka, jika dinisbahkan  pada penguasa (maka penguasa) itu telah  keluar dari penyebutan iman. Lanjutkan membaca

inilah dakwah kami

► Kami mengajak pada hijrah menuju Allah ta’ala dengan memurnikan tauhid, berlepas diri dari syirik dan tandid dan hijrah menuju Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan memurnikan mutaba’ah padanya.

► Kami mengajak pada idh-harut tauhid (menampakkan tauhid) dengan mengumumkan ikatan iman yang paling kuat dan terus terang dengan millah dua kholil (kekasih), Muhammad dan Ibrohim ‘alaihimas salam, menampakkan tawalli (loyalitas) pada tauhid dan pemeluknya, dan menampakkan baro’ah (berlepas diri) dari syirik dan pelakunya.

► Kami mengajak pada realisasi tauhid dengan jihad melawan para thoghut semua dengan lisan dan senjata untuk mengeluarkan hamba dari ibadah kepada hamba menuju ibadah pada Robbnya hamba dan mengeluarkan hamba dari manhaj-manhaj, undang-undang, din-din menuju keadilan dan cahaya Islam. Lanjutkan membaca

ikut pemilu memilih bahaya yang paling ringan

Ikut Pemilu Memilih Bahaya Yang Paling Ringan

Mereka mengatakan : “Kami mengakui bahwa pemilu ini buruk akan tetapi keikutsertaan kami adalah dalam rangka mengambil yang paling ringan dari dua mafsadat dan demi mewujudkan kemaslahatan yang lebih besar.”

Kami katakan, ikut serta dalam majlis perwakilan. Menurut kalian itulah yang paling ringan bahayanya. Mari kita lihat apa yang dimaksud dengan bahaya yang ringan menurut mereka.

Pertanyaan pertama, siapakah hakim dalam majlis perwakilan tersebut, Allah-kah ataukah manusia? Jawabannya, manusia tentu saja.

Lanjutkan membaca

Kami terpaksa ikut pemilu

Kami Terpaksa Terjun Ke Dalam Pemilu dan Parlemen

Al Ikrah atau “terpaksa” secara istilah berarti “membawa seseorang untuk mengerjakan atau mengatakan sesuatu yang dia tidak ingin melakukannya”. Ini adalah definisi “terpaksa” menurut ilmu ushul fiqih.Dengan pengertian ini berarti mesti ada pihak yang memaksa dan ada yang dipaksa. Dan mestinya orang yang memaksa mampu mengerjakan apa yang dikehendaki pada diri orang yang dipaksa. Itu karena lemahnya perlawanan orang yang dipaksa. Ini berdasarkan dalil dari Al Quran, Allah Azza wa Jalla berfirman :“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa) akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya.” (QS. An Nahl : 106)Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Diangkat dari umatku (balasan) karena kesalahan, kelupaan dan yang dipaksa.” (HR. Thabrani dari Tsauban radliyallahu ‘anhu)

Lanjutkan membaca

Menegakkan syariat bertahap

Menegakkan Syariat Secara Bertahap

Terhadap orang yang mengatakan kepada mereka : “Kalian tidak merealisasikan apapun selama ini.”
Maka mereka menjawab –dalam rangka pembelaan diri– : “Menegakkan syariah itu harus dengan cara bertahap.”

Ucapan ini tidak benar karena beberapa hal.

1. Menegakkan syariat bisa dilakukan secara bertahap dengan jalan yang syar’i bukan dengan sistem barat.

Lanjutkan membaca

Mengganti UU sekuler dgn UU islam

Kami Akan Mengalihkan UU Sekuler Menuju UU Islam

Sebagian mereka mengatakan : “Berbahagialah wahai rakyat! Kami telah menjadikan UU kalian menjadi lebih Islami.”

Kami bukan golongan orang semacam ini, yakni golongan yang gembar-gembor : “Berbahagialah kalian! Kami telah mengamandemen undang-undang!”Apa yang telah kalian perbuat, wahai orang yang malang! Catatan di atas kertas itu adalah untuk kepentingan opini media-media saja. Kenyataannya, kalian tidak pernah menyaksikan kecuali yang lebih parah keadaannya. Kami memohon kepada Allah kebaikan kaum Muslimin. Dan yang menjadi materi amandemen itu ialah “syariat Islam menjadi rujukan dari segala proses penetapan hukum”.

Lanjutkan membaca

kami tidak ingin memberi peluang pada musuh

Kami Tidak Ingin Memberi Peluang Kepada Musuh

“Kami tidak ingin memberi peluang kepada musuh dari kalangan sekuler, sosialis, dan lain-lain.”

Jawabannya :
Kami juga tidak menginginkan musuh-musuh Allah mempunyai jalan untuk menyerang orang-orang Mukmin namun kami katakan kepada saudara-saudara sekalian apa yang kalian telah persiapkan untuk tindakan ini? Jika kalian mempergunakan sarana yang sama dengan mereka dan kalian tunduk kepada UU mereka maka kalian tidak dapat memperoleh sesuatu pun kecuali dengan banyak mengalah dan mengalah lagi. Kadang mereka mengatakan, kami berambisi untuk mencapai mayoritas suara majlis perwakilan. Anggaplah kalau kalian telah mencapai jumlah mayoritas lantas apakah kalian boleh untuk menerapkan hukum dengan hukum mayoritas? Jawabannya : Tidak boleh!

Lanjutkan membaca